Selasa, 14 Agustus 2012
Pelangi yang Tak Kunjung Datang | @ktagana
Nafasnya sendu, matanya pilu, hatinya kemarau, maskaranya luntur tak beraturan. Seorang Wanita tertatih di tengah hutan yang meredam dunia luar. Dunia yang terlalu keras bagi seorang Wanita rapuh.
Wanita ini terus berlari, membelah rusuk-rusuk hutan yang didiami pohon besar dan kekar. Matanya tak henti menghujani pipinya. Ia terus berjalan dengan sendu. Kepalanya masih dibayang-bayangi Pria dengan tuxedo hitam yang mencekik tangisnya.
Pria tua dengan jas dan dasi kupu-kupu usang mendatanginya,
"Apa yang kau cari disini, gadis kecil?"
"Aku mencari pelangi.", jawab wanita itu singkat, tanpa memeberi atensi lebih ke pak tua.
Ia terus berjalan, sembari menggenggam mawar yang dimekari oleh air matanya.
Musim penghujan seakan betah memberi siklus pada matanya, sementara hatinya kering kerontang. Rambutnya tergerai layu. Ia berjalan dan terus berjalan.
Entah dimana Ia akan menemukan pelangi. Ia hanya berjalan lurus dengan berbagai pikiran yang merecoki hatinya, menyayat-nyayat sisi-sisi hatinya yang semakin rapuh.
Sampai pada akhirnya isi kepalanya tumpah ruah, menembak tepat ke jantungnya layaknya selongsong peluru.
Wanita tadi terbunuh oleh pikirannya sendiri, roh nya meninggalkan jiwa yang penuh peluh, mata yang memerah, dan hati yang keruh. Namun pelangi tak kunjung datang.
by: @ktagana
http://superagazzino.blogspot.com/
Minggu, 12 Agustus 2012
Hutan Kecil pada Hatimu | @tashafairus
pagi masih terlalu dini. matahari masih terlalu pemalu. awan masih menyelimuti langit membiru.
rumput masih basah. dedaun masih mengembun dingin. pepohon masih menyaring berkas cahaya matahari.
gaun putih. kaki telanjang. rambut setengah basah. dan seorang gadis tergopoh gopoh berlari membelah pagi.
napasnya tak teratur. jantungnya berdebar lebih cepat dari derap langkahnya. keringat menyusuri setiap lekuk tubuhnya, deras seperti rasa gemas yang menguasai tubuhnya.
gadis ini berlari sekuat tenaga. kaki telanjangnya ia hempaskan begitu saja pada rerumput lembab. rambut terurainya ia biarkan terdesak angin pagi menggigil. matanya fokus mencari celah pepohon yang memungkinkannya keluar dari hutan ini.
ia benci tempat ini. pohon pohon menjulang hanya menutup hangat matahari. daun daun basah hanya menampung air mata air mata penghuninya. rerumput lembab ini hanya membuat rusuknya semakin dingin.
ia berlari lebih cepat. ia tidak ingin terjebak disini terlalu lama, tersesat dan menjadi penghuni hutan ini, hutan berisi langit mendung, berpenghuni gadis bermata sembab.
ia terus berlari, meski lelah sudah membiru di permukaan tubuhnya.
ia berusaha mencari tempatnya terjatuh pertama kali di tempat ini. di suatu senja yang menyimpan rahasia. di suatu sudut hutan ini, tempat semua gadis tak tahu apa apa dibuang langit hangat dan disesatkan pada dingin hutan sepi.
ia dulu mengira ini bukan tempat yang buruk. dijatuhkan langit dengan bekal mawar berduri segar, yang pada akhirnya deduri itulah yang menusuk dirinya sendiri. ia dulu mengira ia bisa bertahan dengan tabahnya, yang pada akhirnya lelah dari tabah itulah yang memukulnya babak belur berair mata. ia dulu mengira ia bisa keluar dari hutan ini dengan mudah, namun bagaimana bisa jika setiap jengkal hutan ini menariknya paksa untuk mencandu memori terus menerus hingga mabuk?
ia terus berlari.
mencari jalan keluar, terbebas dari hutan kecil pada hati lelaki-nya.
rumput masih basah. dedaun masih mengembun dingin. pepohon masih menyaring berkas cahaya matahari.
gaun putih. kaki telanjang. rambut setengah basah. dan seorang gadis tergopoh gopoh berlari membelah pagi.
napasnya tak teratur. jantungnya berdebar lebih cepat dari derap langkahnya. keringat menyusuri setiap lekuk tubuhnya, deras seperti rasa gemas yang menguasai tubuhnya.
gadis ini berlari sekuat tenaga. kaki telanjangnya ia hempaskan begitu saja pada rerumput lembab. rambut terurainya ia biarkan terdesak angin pagi menggigil. matanya fokus mencari celah pepohon yang memungkinkannya keluar dari hutan ini.
ia benci tempat ini. pohon pohon menjulang hanya menutup hangat matahari. daun daun basah hanya menampung air mata air mata penghuninya. rerumput lembab ini hanya membuat rusuknya semakin dingin.
ia berlari lebih cepat. ia tidak ingin terjebak disini terlalu lama, tersesat dan menjadi penghuni hutan ini, hutan berisi langit mendung, berpenghuni gadis bermata sembab.
ia terus berlari, meski lelah sudah membiru di permukaan tubuhnya.
ia berusaha mencari tempatnya terjatuh pertama kali di tempat ini. di suatu senja yang menyimpan rahasia. di suatu sudut hutan ini, tempat semua gadis tak tahu apa apa dibuang langit hangat dan disesatkan pada dingin hutan sepi.
ia dulu mengira ini bukan tempat yang buruk. dijatuhkan langit dengan bekal mawar berduri segar, yang pada akhirnya deduri itulah yang menusuk dirinya sendiri. ia dulu mengira ia bisa bertahan dengan tabahnya, yang pada akhirnya lelah dari tabah itulah yang memukulnya babak belur berair mata. ia dulu mengira ia bisa keluar dari hutan ini dengan mudah, namun bagaimana bisa jika setiap jengkal hutan ini menariknya paksa untuk mencandu memori terus menerus hingga mabuk?
ia terus berlari.
mencari jalan keluar, terbebas dari hutan kecil pada hati lelaki-nya.
by: @tashafairus
http://berbagicangkir.blogspot.com/
Like a Knife | @muthiahannisa
ketika?
sebuah kata sederhana begitu kompleks bagiku?
aku diburu, dicekam, tapi hatiku begitu malu
desakan gravitasi meyuruhku tetap bernaung bermain dengan simpulan semesta
semesta begitu pelik bagiku dengan “merona aku usap pipiku”.
dimana? aku haru kutancap sepasang kaki telanjang ini..
disinakah? disitukah? disanakah?
beranda yang telah penuh ditemani sebuah bayangan yang terlalu semu
sudahlah aku sudah diburu..
terlalu sepi bagiku..
terlau dingin, ketika meyergap aku siap dimangsa..
diantara biloks biloks yang ingin menetralkan..
aku lengah..
ketika kau memulaikan cerita.
desakkan relung hatiku ingin meronta tapi tidak bisa..
ketika aku sudah ingin muntah..
kalimat itu menusuk diantara tulang rusuk “hay wanita”?
ketika kalimat itu kau lontarkan kepadaku..
seketika itu sebuah rambatan tidak hadir kau ciptakan..
seketika itu membuat hatiku ingin meronta..
waktu semesta untuk kau dan aku “tidak ada”..
itu sebuah skenario yang terlalu pendek karena itu sebuah manisan..
aku hanya sebagai etalase di bagian simpulanmu..
beranda yang terlalu sepi bagiku..
tak perlu meronta..
hanya sebuah tarian fatamorgana..
dada yang sudah kau belah
sekejap menghisap memoriku
semesta menjawab pertayaanku?
jawaban pahitkah???
sebuah kata sederhana bermuncul dipermukaan lagit semesta..
lupakanlah..
gravitasi hilang
begitu kedap udara tersisa..
aku menghilang..
“ketika kau dan aku menyusup”
by: @muthiahannisa
http://muthiahannisa.tumblr.com/
Senin, 06 Agustus 2012
#prosaproject sesi4
sukses bikin #prosaproject sesi3 edisi tema khusus luar angkasa, sekarang #prosaproject mau bikin edisi khusus lagi supaya makin mengasah kemampuan eksplorasi ide menjadi sebuah prosa. Dan sesi4 kali ini yaitu:
membuat prosa dari eksplorasi ide kamu terhadap gambar/foto dibawah ini
syarat:1. harus menyertakan gambar/foto ini dalam postingan
2. batas posting tanggal 11 agustus 2012, pengumpulan link maks. 12 agustus 2012 siang
3. pengumpulan link berformat:
"Judul Prosa" | link | by:@akuntwittermu #prosaproject | cc:@tashafairus
4. Publikasi link dilakukan 12 agustus 2012 paling lambat malam hari, dimohon kerjasamanya untuk bantu meretweet agar publikasi semua karya semakin merata (bukan retweet karya pribadi saja)
jika ada saran untuk #prosaproject ke depan bisa disampaikan.
selamat menulis, selamat berimajinasi! :)
Minggu, 29 Juli 2012
Ilusi dan Gadis Bulan | @tashafairus
aku berjalan linglung. kakiku sudah berdarah tergesek permukaan bulan.
ia meninggalkan jejak merah di setapak di belakangku, dengan harap cemas
akan ada sepasang kaki lain mengikut di belakang sepasang kaki lukaku,
bersedia menuang jejak luka merah yang sama di atas bulan yang sama,
lelaki itu.
nafasku hampir habis digerogoti atmosfer bulan. setapakku masih menjejak merah sendiri. bulan ini semakin kotor, dengan aku dan setapak merah lukaku berputar diatasnya, mencari lelaki itu, dengan benang luka yang aku tinggal di setapak bulan ini, menunggunya merajut benang ini menjadi luka yang lebih besar untuk dikenakan bersama sama. darahku sudah mengalir habis mengisi lubang lubang bulan, ia kekal bersama tungguku. dan lelaki itu yang tak juga bisa ditunggu.
tunggu!
mataku sudah gelap, hanya bisa mengerjap, mencari suara yang terpantul mendekat.
lelaki itu, ya, lelaki itu.
aku tidak pernah sudi datang untuk menyambung jejak kaki berdarahmu pada setapak bulan, karna aku datang bukan untuk merajut luka bersama sama.
ikutlah aku, tidak ada lagi kasar bulan yang membuatmu berdarah lebih luka. masih banyak tempat kita di semesta ini.
ikutlah aku, membalut luka dan bahagia.
aku terbangun.
bunga tidurku menguap dari kepala, mengisi nyata pada lelaki di hadapanku.
"Kamu bukan ilusi untuk mengobati lukaku kan, tuan?"
Lelaki itu diam, terbang, lalu hilang, bersama sadarku.
"Ah, ilusi lagi." dengusku.
nafasku hampir habis digerogoti atmosfer bulan. setapakku masih menjejak merah sendiri. bulan ini semakin kotor, dengan aku dan setapak merah lukaku berputar diatasnya, mencari lelaki itu, dengan benang luka yang aku tinggal di setapak bulan ini, menunggunya merajut benang ini menjadi luka yang lebih besar untuk dikenakan bersama sama. darahku sudah mengalir habis mengisi lubang lubang bulan, ia kekal bersama tungguku. dan lelaki itu yang tak juga bisa ditunggu.
tunggu!
mataku sudah gelap, hanya bisa mengerjap, mencari suara yang terpantul mendekat.
lelaki itu, ya, lelaki itu.
aku tidak pernah sudi datang untuk menyambung jejak kaki berdarahmu pada setapak bulan, karna aku datang bukan untuk merajut luka bersama sama.
ikutlah aku, tidak ada lagi kasar bulan yang membuatmu berdarah lebih luka. masih banyak tempat kita di semesta ini.
ikutlah aku, membalut luka dan bahagia.
aku terbangun.
bunga tidurku menguap dari kepala, mengisi nyata pada lelaki di hadapanku.
"Kamu bukan ilusi untuk mengobati lukaku kan, tuan?"
Lelaki itu diam, terbang, lalu hilang, bersama sadarku.
"Ah, ilusi lagi." dengusku.
by: @tashafairus
http://berbagicangkir.blogspot.com/
Tersesat di Bima Sakti | @ktagana
Si Pria berwajah klimis, kumisnya ter-iris manis. Ia tinggal di Mars.
Keahliannya adalah sintaksis. Tiap rongga geriknya adalah janggal. Tiap
aksara yang digoreskannya hanyalah sintaksis tanpa isi. Nir-komposisi.
Si Wanita bertubuh indah, arsir wajahnya sempurna. Dihidupi di Venus. Ia
mengolah nada-nada minor menjadi satu kesatuan indah, bak seorang
biduan.
Mereka bertemu pada musim dingin di suatu sudut di Bima Sakti. Saling
menghangati tulang-tulang yang dipenuhi gigil. Menebar buih-buih rindu.
Tanpa pernah meragu. Mereka candu pada cangkir konversasi ringan,
layaknya sepasang yang sudah dicuci isi otak dan hatinya.
"Mari kita teguk bersama cangkir ini, dalam limpah suka."
"Dengan senang hati, tuan."
Mereka hidup bersama. Meninggalkan Mars, dan juga Venus. Mereka memilih
meninggali Bumi yang menyedihkan, penuh elegi. Mereka seolah melakukan
kesalahan terbesar. Kulit mereka perlahan mengelupas, teriris perihnya
musim panas. Jantung mereka memompa darah lebih cepat dari biasanya.
Kepala mereka berdua mendidih. Space Dementia. Mereka melayang di permukaan Bumi.
"Tidak seharusnya kita disini."
"Ini semua salahmu, makhluk aneh."
Tingkah laku mereka sudah tidak lagi selayaknya. Disorder. Kisah
yang mereka pepatkan memuai sempurna, tak lagi berisi. Debar jantungnya
mulai memasuki outro. Si wanita memasuki dua musim; penghujan pada
sepasang matanya, kering pada hatinya. Kontradiksi sempurna. Si wanita
merekah, lelah. Si pria terkapar, menyerah.
Bibir mereka kelu, otaknya membeku. Saat itu kupu-kupu tak lagi
mengepakkan keindahan. Oksimoron sudah kadaluarsa, semuanya linier.
Magenta, darah yang mengucur dari kepala mereka.
Mereka terbang, kembali ke Venus, dan juga Mars. Namun mereka hanya
terlalu lelah melayang, jatuh ke dunia entah berantah di luar angkasa
sana. Tersesat di sudut lain di Bima Sakti.
by: @ktagana
http://superagazzino.blogspot.com/
Meninggalkan atau Ditinggalkan? | @septyDI
Apa kita masih melihat bintang sama malam ini?
“Aku masih sayang kamu banget,Reina. kamu tau kan nggak ada perempuan yang bener-bener aku sayang selain kamu. Semua setelah kamu itu nggak berasa waktu aku sama kamu.”“Apa kamu inget sama Laura waktu kamu ngomong begini semua sama aku?”“Apa kamu nggak bisa untuk menunggu sebentar,sayang? Sampai aku benar-benar menyelesaikan semuanya di antara aku dan Laura?”“Aku harus menunggu berapa lama lagi,Dan. Apa belum cukup kita ngejalanin sembunyi-sembunyi gini selama dua tahun lebih? Butuh berapa lama kamu menyelesaikan semuanya dengan pacar LDR kamu itu?“Tapi, aku butuh kamu Reina.”“Coba kamu fikiran matang-matang ya, pilih antara aku atau dia. Aku kasih kamu waktu 1 minggu buat mikirin semuanya., gimana kedepannya dihubungan kita ini. Dan setelah itu, aku juga nggak bakal nuntut yang macam-macam lagi dari kamu. Dan kita cukup menghentikan semua komunikasi dan pertemuan rahasia ini selama 1 minggu ini”“Aku sayang kamu,Reina. kamu tau sekali soal itu”“Aku juga sayang kamu,Dan. bahkan mungkin melebihi pacar beneran kamu itu. Tapi hubungan kayak gini mau sampai kapan dijalani? Aku butuh komitmen dalam hubungan ini.”“Oke kalau itu yang kamu mau,sayang. aku bakal mikirin semuanya. Dan sesuai permintaan kamu kita menghentikan semua komunikasi dan pertemuan ini sampai satu minggu kedepan.”“Oke, satu minggu lagi aku nungguin kamu ditempat biasanya kita ketemu. Jam 2 siang”
***
Percakapan malam itu benar-benar terekam jelas
diingatanku. Ya, aku seorang selingkuhan dari mantan pacarku yang
terindah. Klise sebenarnya, tapi kalau sudah masalah perasaan siapapun
bisa ngelakuin apa saja demi kebahagiannya bukan? Keegoisan tertinggi
dari seseorang yang menuntut kebahagiaanya sendiri tanpa mempedulikan
kesakitan orang lain.
Dan teringat dimasa-masa kita benar-benar bersama.
“Kamu kasih aku panggilan sayang gitu kek~”“Masih penting ya begituan?”“penting~”“hmm.. buat apa sih? bentar deh ya aku pikirin dulu.”“Jangan lama-lama”, Dan berkata manja dihadapanku. Aduh.. bagaimana bisa aku tak luluh dihadapannya?“Karna aku suka banget sama angka kembar dan aku juga suka banget sama bintang, aku manggil kamu Capella aja kali ya.”“Capella?”“Iya. itu bintang kembar yang terang yang sama hangatnya dengan matahari dan dia selalu ada dimusim dingin. Kayak kamu yang datang ke hidup aku disaat aku bener-bener ‘dingin’ ”“Mm.. gitu ya?”“kalo nama panggilan buat aku?”“Aku boleh namain kamu pelangi,kan? soalnya aku selalu suka hujan dan pelangi selalu ada setelah hujan,bukan?”“Sejak kapan kamu mau sok romantis begini sih?”“Sejak sayang sama kamu”
dan kita saling tertawa bersama sambil mengejek satu sama lain
***
Seminggu kemudian. Kafe
“Maaf terlambat, tadi aku ada kelas yang molor banget masuknya”,ujar Dan sambil terengah-engah. Terlihat ia benar-benar lelarian sepanjang jalan menuju kesini.“It’s okay. Dan sejak kapan kamu ontime coba? Pesen dulu mau minum apa”,ujarku sambil mengaduk cappuccino freddoku untuk menutupi kegugupanku.“Mm.. ntar aja deh. Eh,Tapi kan aku sudah berubah banyak dari pada waktu-waktu pertama kita ketemu. Dulu aku lebih jauh bandelnya,kan.”, dia berkata sambil mengacak-acak rambutku.“Stop.. ini susah loh ngatur rambutnya sampe serapi ini”, aku refleks untuk menghindarinya dan dia berubah membelai rambutku. Dan matanya terlihat dengan jelas, dia sedih. Kenapa? apa dia sudah memutuskan semuanya? Aku sudah mencoba untuk berpura-ura tidak tau apa-apa. Tanpa sadar tangis keluar dari mataku. Tangis perpisahan yang belum terjadi.“Kamu kenapa kok nangis?“sepertinya aku tau apa yang akan terjadi. kamu kan dari dulu tau aku memang cenayang”, ujarku bercanda sambil menangis.“Cupcupcup, udah ah. Udah gede gini kok malah nangis, malu tuh diliatin orang”“karna aku tau disini sepi banget,Dan. Nggak bakal ada orang yang eknal sama kita disini. Dan kita juga memilih tempat ini karna yakin nggak bakal ada orang yang kita kenal disini. Untuk mengadukan hubungan kita ke Laura,pacar kamu” aku menekankan nama pacarnya terhadapnya, dan langsung berubah raut wajahnya.“jangan tatapan yang itu,Dan. Kamu tau aku bakal luluh dengan tatapan itu,kan?, ujarku. Dan tak terasa tangisan itu semakin menguat.“Aku sayang kamu,Reina. Dari awal kita ketemu aku udah bisa menebak, kamu itu beda. Beda dari sekian perempuan yang pernah ada dihidup aku. Dan kalo disuruh memilih seperti ini aku bingung.”“kamu nggak bisa memilih aku? kamu tau aku sesayang apa sama kamu. kamu tau aku jeuh lebih sayang sama kamu daripada laura,kan?”“Aku mungkin aja bisa untuk mengkhianati Laura,sayang. Tapi. untuk mengkhianati orang tua aku atas perjodohan ini aku sudah nggak sanggup. Ini terlalu susah untuk dipilih”“aku sudah menebak semuanya bakal seperti ini akhirnya,Dan. stop semua kata-kata sayang kamu. aku sudah nggak bisa ngedengerin apa aja dari kamu sekarang. Di Otakku sepertinya semuanya sudah pecah, semuanya penuh dengan suara pecahan. Sepertinya 4 tahun hubungan kita dan 2 tahun terakhir yang harus backstreet dari orang tua kamu dan tunangan kamu itu sudah nggak ada artinya ya”“tapi, aku sayang kamu,Reina. aku butuh kamu.”“Kita terlalu berbeda. Bisa diibaratkan Kamu itu Hujan dan Aku Bintang. Kita nggak pernah bersatu walaupun berada pada tempat yang sama. Karna, Bintang yang bersinar hanya ada saat malam hari, sedangkan Hujan bisa datang kapan saja. Jikalau hujan datang pada malam hari, bintang selalu mengalah dan bersembunyi dibalik awan hujan itu, mengalah. Dan meminta maaf kepada setiap manusia yang menunggunya sedari matahari terbit di bumi karna tak bisa menghibur dan melihatnya malam itu. Bintang yang hanya terlihat indah dari jauh itu hanya bisa mengalah kepada hujan.”aku mencoba menahan tangisku, mencoba menghentikan tangisku yang pecah dipelukannyanya.“Kamu bukan sosok yang egois, tapi entah kenapa kamu terlalu egois di hadapanku, dipemikiranku. Kamu bukan sosok yang jahat, tapi entah kenapa apa saja yang kamu lakukan terhadapku terlihat jahat.”, aku mengucapkan kata-kata itu yang membuat dia benar-benar terdiam.“Lebih baik kita hentikan semuanya saja, lebih baik kita seperti orang asing yang nggak saling mengenal. aku sudah cukup sakit dengan semuanya”, aku beranjak dari tempat dudukku.“Kamu mau kemana,Reina? Yuk, aku antar pulang”,Dan pun ikut beranjak dari tempat duduknya.“Semuanya sudah berakhir disini,Dan. aku butuh waktu untuk merapikan semua serpihan hati ini. Aku butuh waktu untuk menghilangkan semua kenangan kita. Kamu mau mengerti,kan?” ujarku dengan senyum ganjil yang Dan pun tau apa artinya.“Aku benar-benar minta maaf,Reina. dari awal memang kita sudah kalah dengan perasaan. aku terlalu takut untuk mengambil resiko untuk kita. aku benar-benar sayang kamu,Reina”“Aku paham dan Aku sangat mengerti apa maksud semua ini,Dan. Berbahagialah dengan gadis pilihan orang tuamu. Berbaktilah kepada orang tuamu. aku selalu mendoakan kebahagiaan kamu”“maafkan aku,sayang. maafkan aku,pelangi”“Ah, sudah lupakan saja semuanya. Kita sudah bukan siapa-siapa. Dan kita sepasang manusia yang terikat dengan kenangan indah terlarang. Lupakan saja.”“Maaf,Reina. Maaf.”, ucapnya dengan suara bergetar. Sudah 5 tahun aku mengenalnya sebagai pria yang sangat tenang pembawaannya, baru kali ini suaranya bergetar. Dia kehilangan kontrol dan sungguh-sungguh dengan pengucapannya.“minta maaflah ke Laura, dia pihak yang tersakiti diatas semuanya ini. Sebelum kamu meminta maaf, aku sudah jauh memaafkanmu. Selamat tinggal,Dan. “ Aku sudah cukup tenang untuk melanjutkan perjalanan hidupku dan berjalan keluar dengan tegar.
Dan hujan turun dengan lebatnya seperti tau
apa yang paling aku butuhkan, untuk mengelabui semua tangisku yang
meledak. Aku hanya bisa berjalan ditengah hujan, mencoba
mengikhlaskannya. Mencoba menikmati salah satu yang paling Dan suka,
yaitu hujan. Dan untuk menutupi tangisku.
Dan pada akhirnya kita hanya memiliki 2 pilihan, antara ditinggalkan atau meninggalkan.
by: @septyDI
http://septydwiindriani.tumblr.com/
Umbra Mungilmu | @afsahenda
Rasi yang
tercipta di angkasa sejak dua puluh empat bulan lalu menunjukkan
ketimpangannya. Sebuah bintang mungil mendekati bagian rasi yang ketika
itu, kau yang menciptanya. Hingga ia berhenti bergerak, meredup, berada
tepat di antara rasimu dan aku, lalu terang benderang lagi.
Aku benar tak mengerti apa yang sedang terjadi disana. Ataupun di dalam
sini, diantara ruang pesawat antariksa yang kau dan aku tumpangi. Ada
sesuatu yang mengganjal hingga aku harus turun memeriksa angkasa yang
menurutku sudah tak indah, rasi yang sudah terkontaminasi oleh objek
asing yang semestinya tak berada disana.
Aku mendekat perlahan. Amat hati-hati sampai aku bisa memandang rasi
yang benar-benar tak sama seperti sedia kala. Namun, ia bercahaya.
Cahaya yang begitu syahdu, lembut dan tak menyilau kornea. Ada sekelebat
perasaan cinta yang muncul di ulu hatiku akan kedatangan objek mungil
itu pada akhirnya.
Detik itu aku tersadar bahwa aku sudah bukan satu-satunya bintang yang
terang di angkasamu. Tidak lagi. Pemilik galaksi lebih memilih untuk
menghadiahkan sebuah bintang mungil sebagai umbramu. Dan menjadikan aku
penumbra. Setelah dalam penantian sekian lamanya, kita sampai pada detik
dan detak yang harus dibagi. Pesawat yang kita tumpangi akan memiliki
seorang calon awak baru.
Dan, selamat datang umbra pekatmu. Semoga kelak dia menjadi kebanggaan bagi kita, bagi sesiapa saja.
by: @afsahenda
http://sahenda.blogspot.com/
Tarian Aurora | @saraahaghnia
Aku berjalan menyusuri hampa bernama angkasa. Langkahku tertancap pada
tumpukan batu penghalang raksasa, tempatku bersua dengan waktu dan
pengap yang kian menghimpit. Aku melihat denyut nadiku melemah, seperti
siap menyapa ajal. Namun ketakutan itu kembali menghampiri, menyeretku
ke kenyataan yang kadang sudah tak bersekat dengan kefanaan. Jadi
kuputuskan mengambil sebuah pil untuk ditelan.
Ia berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan melintasi batu penghalang raksasa dengan tenang. kulihat kakinya banyak berdarah. ia tetap berjalan sampai ke puncak walau sudah kularang.
Di balik batu itu. Tempat gadis itu melompat. Tempat aurora terjun adalah lubang hitam. Yang menyerap siapa saja ke dalamnya. Banyak mitos yang mengatakan lubang itu menembus ke planet terlarang bernama Bumi. Namun entah.
**
Lama setelah aku kembali kuat menatap angkasa tanpa gelisah dan resah yang lama menghampiriku, semua orang ribut membicarakan hal aneh. Seberkas cahanya berwarna azure melintang indah di atas angkasa.
Azure?
by: @saraahaghnia
http://uncoloursky.blogspot.com/
Suara langkah mendekat mengusik sepi yang kucintai. Seorang gadis
berambut ikal berjalan mendekat membawa sekarung kecil entah apa
berwarna cokelat. Rambutnya yang berwarna azure membuatku memaafkan
kelancangnnya mendekati wilayahku. Warna azure--warna langit yang
diam-diam lama kurindukan sekaligus warna terlarang.
Siapa kau?
Tak akan lagi penting siapa aku ketika asa mulai menyesakkan dadamu dan menghimpitmu dalam keputusasaanGadis tadi duduk di batu sebelahku.
Ini napas simpananku. Aku jarang menggunakannya dan lebih sering menyimpannya,Ia menunjuk karung kecil yang ia pegang dengan wajah hampa. Ia melanjutkan bicaranya yang kuanggap racauan saja.
Seumur hidupku, aku tak akan menggunakan napas sebanyak ini. Aku pasti akan terus menyimpannya. Tetapi sebuah bunga tidak akan mekar terlalu lama. Ia harus mengorbankan kematiannya demi generasi yang baru.Seperti aku, aku rela mengorbankan apapun demi melihat kedua orang tuaku di Bumi.Bumi--planet yang disebut-sebut planet terlarang--
Ia berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan melintasi batu penghalang raksasa dengan tenang. kulihat kakinya banyak berdarah. ia tetap berjalan sampai ke puncak walau sudah kularang.
Namaku Aurora, kuharap kau akan mengingatnya.Ia menghabiskan seluruh napas yang ia kumpulkan sepanjang hidupnya dan menghilang setelah melompat dari puncak batu penghalang.
Di balik batu itu. Tempat gadis itu melompat. Tempat aurora terjun adalah lubang hitam. Yang menyerap siapa saja ke dalamnya. Banyak mitos yang mengatakan lubang itu menembus ke planet terlarang bernama Bumi. Namun entah.
**
Lama setelah aku kembali kuat menatap angkasa tanpa gelisah dan resah yang lama menghampiriku, semua orang ribut membicarakan hal aneh. Seberkas cahanya berwarna azure melintang indah di atas angkasa.
Azure?
Aurora. Aurora pasti sedang menari di atas sana.
by: @saraahaghnia
http://uncoloursky.blogspot.com/
Jauh | @anggitmoracita
Kanan kiri aku mencarimu.
Lupa, kau tak lagi disampingku.
Layaknya angkasa, jauhnya kamu.
Aku bisa melihatmu, tapi tidak untuk menggapaimu.
Lupa, kita sudah tak sama.
Atmosfer kita berbeda.
Jauh terpisah kita.
Kau dan aku layaknya bumi dan luar angkasa.
Oh ya, bumiku masih hancur ketika menerima hempasan meteormu kala itu.
Kita jauh.
Jauh sekali.
Kau, bintang di luar angkasaku.
Mungkin sampai kapanpun aku hanya bisa melihat gemerlapmu dari sini.
Terlalu tebal atmosfer yang harus ku tembus untuk menggapaimu.
Mungkin, selamanya aku tak bisa menetap di dirimu.
Perutku geli, jangankan menetap, untuk singgahpun aku tak berani berharap.
by: @anggitmoracita
http://anggitmc.tumblr.com/
Lupa, kau tak lagi disampingku.
Layaknya angkasa, jauhnya kamu.
Aku bisa melihatmu, tapi tidak untuk menggapaimu.
Lupa, kita sudah tak sama.
Atmosfer kita berbeda.
Jauh terpisah kita.
Kau dan aku layaknya bumi dan luar angkasa.
Oh ya, bumiku masih hancur ketika menerima hempasan meteormu kala itu.
Kita jauh.
Jauh sekali.
Kau, bintang di luar angkasaku.
Mungkin sampai kapanpun aku hanya bisa melihat gemerlapmu dari sini.
Terlalu tebal atmosfer yang harus ku tembus untuk menggapaimu.
Mungkin, selamanya aku tak bisa menetap di dirimu.
Perutku geli, jangankan menetap, untuk singgahpun aku tak berani berharap.
by: @anggitmoracita
http://anggitmc.tumblr.com/
Langganan:
Postingan (Atom)



